Belajar dari Burung

“Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal di lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”
[Matius 6: 26]

Ayat di atas merupakan cuplikan ayat dari suatu perikop di Alkitab yang cukup populer yaitu salah satu isi dari khotbah Tuhan Yesus di bukit. Ya, lembaga Alkitab Indonesia memberi judul “Hal Kekuatiran” yang pada intinya isinya mengajarkan kita bahwa kekuatiran tidak akan menambah sehasta saja pada jalan hidup kita, namun Tuhan Yesus hendak mengingatkan kita bahwa hal Kerajaan Allah dan kebenarannya jauh lebih penting daripada itu. Namun pernahkah kita bertanya mengapa Tuhan Yesus memakai satwa burung dalam salah satu perumpamaan-Nya dalam perikop ini?

Menjadi sangat menarik untuk mencari fakta tentang karakter satwa burung ini secara umum. Berikut adalah beberapa fakta yang saya dapatkan mengenai satwa burung ini.

KERJA KERAS
Ketika Tuhan Yesus meminta kita jangan kuatir, bukan berarti kita berpasrah diri tanpa melakukan apa-apa begitu saja. Ternyata kita dapat belajar tentang kerja keras dari satwa burung ini. Satwa ini akan bekerja keras untuk membangun sarangnya dan untuk mencari makan. Kita pun harus seperti satwa ini ketika bekerja dalam ladang-Nya Tuhan, oleh karena itu ada lagu yang mengatakan bahwa jangan lelah bekerja di landang-Nya Tuhan. Namun berbeda dengan satwa burung bahwa kita tidak bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri tetap Roh Kudus yang yang ikut campur tangan seperti lanjutan lagu tersebut bahwa Roh Kudus yang memberi kekuatan yang mengajar dan menopang.

KESETIAAN
Dalam salah satu tulisan di situsnya,
National Geographic Indonesia menyebutkan 10 satwa paling setia dan 3 di antaranya adalah satwa burung. Satwa burung ini juga mengingatkan kita untuk berusaha tetap setia pada Tuhan. Namun meskipun kita manusia sering tidak setia pada Tuhan, Dia tetap setia (2 Timotius 2: 13). Jauh melebihi burung itu kita harus menguasai diri kita dalam segala hal, sabar menderita, tetap melakukan pekerjaan pemberitaan Injil dan menunaikan tugas pelayanan kita (2 Timotius 4: 5).

MENGAJAR & BELAJAR
Sebagai orangtua, satwa burung akan dengan tulus mengajar anak-anaknya untuk terbang dan sebaliknya sebagai anak, satwa ini pun tidak akan pernah lelah untuk belajar terbang meskipun harus rela berulang kali jatuh. Tuhan Yesus pun tak pernah lelah untuk mengajar murid-murid-Nya dan Ia pun tak pernah berhenti untuk belajar Firman Tuhan. Kita juga harus mengikuti apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Tapi satu hal yang perlu kita ingat bahwa sesungguhnya Firman Tuhan mengajarkan kita berbagai aspek dalam kehidupan dunia ini juga, hal tersebut jugalah yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya.

TAHU KETERBATASAN
Ketika hujan turun satwa ini tau batas dirinya sehingga ia tidak akan memaksakan dirinya untuk terbang. Begitu juga kita, tidak boleh memaksakan diri dengan kekuatan diri kita. Ada 2 cara hidup orang Kristen, yang pertama adalah hidup untuk Tuhan dan yang kedua adalah Tuhan yang hidup dalam dirinya. Cara hidup yang pertama cenderung mendorong kita untuk melakukannya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Saat kita mengandalkan kekuatan sendiri, kita dihadapkan pada batas kemampuan kita sehingga akan berbalik kembali pada Tuhan. Kita harus mempersilakan Tuhan untuk mengekspresikan hidup-Nya dalam hidup kita, biarlah Dia yang bertahta atas hidup kita.

PEKA TERHADAP LINGKUNGAN
Satwa burung ini pada zaman dahulu dijadikan sinyal adanya badai oleh pelaut karena kepekaannya terhadap perubahan alam yang akan terjadi. Kita sebagai ciptaan Tuhan yang lebih sempurna haruslah peka juga tidak hanya dengan alam tetapi dengan lingkungan sekitar juga.

SEDERHANA
Satwa ini juga mengajarkan kita tentang kesederhanaan, seperti halnya yang disebutkan Tuhan Yesus bahwa satwa ini tidak mengumpulkan bekal. Jadi satwa ini ingin mengingatkan kita untuk tidak hidup bermegah diri namun seperti doa yang diajarkan Tuhan yaitu dengan mencukupkan diri. Kesederhanaan Paulus juga tercermin dalam perkataannya bahwa asal ada makanan dan pakaian, cukuplah bagi hidupnya (1 Timotius 6: 8).

Semoga tulisan ini dapat mengingatkan kita untuk semakin dekat dan semakin mengenal Dia setiap harinya. Biarlah semua kemuliaan hanya untuk Dia. Tuhan Yesus memberkati.
Soli Deo Gloria! 🙂

1 Komentar

Filed under Uncategorized

Melayani di Diakonia Mengajar Saya untuk Setia

Awalnya

Terlibat dan membantu melayani dalam kegiatan Diakonia di Persekutuan Mahasiswa Kristen ITB sama sekali tidak pernah terpikirkan sekali pun di dalam rencana kegiatan saya selama di Bandung. Sebagai pribadi yang dibesarkan di lingkungan dengan rasa ego yang cukup tinggi, saya tumbuh menjadi pribadi yang agak cuek dan tidak terlalu peduli dengan kondisi sekitar. Orang lain tidak pernah menjadi bahan pikiran saya. Bagi saya, hidup adalah dari saya, untuk saya, dan oleh saya. Sampai suatu saat Tuhan mulai mengajarkan tentang kehidupan berdampingan, kasih mula-mula, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kasih dan kebenaran-Nya. Tentu saja tidak langsung sempurna, namun bertahap, dan salah satu tahapan itu adalah dengan “harus” terlibat di Diakonia.

Pertemuan dengan teman-teman di Diakonia (paling sering) diadakan di lantai dasar Perpustakaan Pusat, begitu pun ketika pertama kali awal saya ikut bergabung. Di awal pertemuan, saya sudah merasakan kehangatan kasih para pengurus dan anggota Diakonia yang mau memberikan waktunya untuk memikirkan dan mendoakan serta mencari cara agar satu orang anak Tuhan dapat melanjutkan kuliahnya. Masih teringat dalam benak saya, saat itu adalah giliran Bang Patar [MS ’03] untuk menjadi koordinator Diakonia.

Pada saat itu, mereka membahas kebutuhan tiap-tiap orang yang diperhatikan tiap bulan. Sering kali, kebutuhan materi untuk orang yang diperhatikan (para penerima donor) tidak sesuai dengan jumlah orang yang diperhatikan. Kondisi ini sering kali membuat kami berharap lebih kepada Tuhan dan Tuhan selalu menjawabnya dengan cara yang luar biasa. Mujizat selalu datang setiap bulan agar melalui materi yang Tuhan percayakan kami kelola dapat membantu orang-orang yang Tuhan ingin kami perhatikan.

Kondisi Selama Mengurus Diakonia

Diakonia di PMK ITB sedikit tersembunyi pada jaman kami. Tidak banyak orang yang mengetahui para pengurusnya dan gerakannya. Untuk menghubungi Diakonia, sering kali kami hanya mencantumkan nama Koordinator PK sebagai perpanjangan tangan Diakonia dan juga koordinator Diakonia sendiri. Dalam beberapa kesempatan, kami diberi waktu untuk mempresentasikan kinerja Diakonia dan kebutuhan Diakonia di PMK ITB. Pada tahun kedua saya bergabung (2007-2008), yang menjadi koordinator adalah Becka [BI ‘04]. Tidak banyak perubahan yang kami lakukan dalam kepengurusan baru ini. Dalam tim, biasanya terdapat ketua, sekretaris dan bendahara, humas, dan para pemerhati.

Selain mencari sumber donator, kami juga harus mencari anggota Diakonia (pengurus Diakonia) yang semakin bertambah sedikit saat itu. Tidak banyak anak-anak Tuhan yang ingin bergabung dengan bentuk pelayanan ini, di satu sisi karena pelayanan ini tidak terbuka dan rekrutmen lewat teman ke teman; di satu sisi, mungkin karena kegiatan ini kurang begitu populer. Teman-teman dekat kami yang kami rasa memiliki kerinduan yang sama coba kami bagikan tentang kegiatan ini dan beberapa di antaranya setuju untuk bergabung dengan tim Diakonia saat itu.

Para donatur pada umumnya berasal dari alumni kampus yang masih mau memberi bantuan kepada mahasiswa yang aktif di kampus, tetapi tidak mendapatkan materi yang cukup untuk membiayai kebutuhan hidup dan perkuliahannya (kos, makan, dan SPP). Para penerima pada umumnya merupakan kalangan yang kurang mampu dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, yang perlu disokong bantuan berupa material dana untuk keberlangsungan perkuliahannya di kampus.

Pertemuan-pertemuan pada masa itu biasanya diadakan setiap bulan, bersama dengan pembagian materinya. Pertemuan kami juga masih banyak membahas tentang kendala, keluhan, penerima baru, kondisi penerima lama, dan semuanya diusahakan tetap rapi terdokumentasi karena harus dipertanggungjawabkan kepada para pemberi donor.

Banyak hal yang terjadi

Kata yang paling tepat untuk menggambarkan Diakonia adalah “mujizat”. Di tempat ini tidak henti-hentinya Tuhan mengajarkan kami tentang kasih, kesetiaan, dan harapan.  Dia mengajarkan kami untuk memikirkan yang baik, melakukan firman-Nya dan menyebarkan kasih-Nya dari hal yang paling praktis yang bisa kami lakukan. Saya rasa saya sangat beruntung bisa mengambil bagian untuk membantu orang-orang disekitar kami tanpa tahu dia akan menjadi apa nantinya. Seolah-olah Tuhan sedang mengajarkan bahwa kasih itu sangat gampang, tidak perlu perdebatan panjang untuk mendefinisikannya cukup memberi saja dan tak mengharapkan kembali, kasih itu murah hati, dia tidak sombong, ia tidak mencari keuntungannya sendiri dan ia tidak menyimpan kesalahan orang lain. Tidak peduli berapa banyak orang yang telah Tuhan percayakan dan walaupun jumlah donor sering kali tersendat, namun hal paling berharga adalah kasih kepada saudara itu sendiri. Bagaimana kami berusaha menyalurkan sedikit bantuan yang dititipkan oleh alumni-alumni kami kepada para penerima dan bagaimana kami harus mempertanggungjawabkannya kepada para senior setiap bulannya.

Selain masalah donor yang sering tidak tepat jumlahnya, masalah lain adalah seringnya muncul kecurigaan kami kepada para penerima, terutamanya jika mereka mulai membicarakan jumlah materi yang mereka terima. Pada saat bergabung di Diakonia, harapan kami, materi yang diperoleh dari Diakonia merupakan alternatif paling terakhir. Kami berharap, mereka terlebih dahulu mengusahakan ke penyedia-penyedia beasiswa di kampus. Untuk mengatasi masalah itu, seringkali kami harus menyediakan kriteria-kriteria yang cukup ketat dan melakukan wawancara pribadi dan juga kerabat terdekatnya untuk mencari tahu kondisinya yang sebenarnya. Tidak jarang kami kecolongan dalam proses tersebut.

Pentingnya Diakonia

Diakonia sendiri diambil dari bahasa Yunani, yaitu “Diakonein” yang berarti melayani meja, melayani kebutuhan-kebutuhan fisik. Diakonia di PMK ITB tidak jauh berbeda dengan definisi yang cukup luas tersebut. Dari cerita saya di atas, dapat saya simpulkan bahwasanya Diakonia di ITB lebih fokus kepada pemberian bantuan berupa dana kepada para penerima donor. Selain itu, update data dan keluhan serta kebutuhan yang bisa kami bantu dalam doa sering kali kami catat dalam hasil wawancara anatar penerima donor dan pemerhati. Tidak jarang, kami mendapati masalah yang cukup kritis untuk dibantu atau bahkan kami tidak tahu harus membantu dengan apalagi. Kami bisa berdoa kepada Tuhan, dan kami berharap mereka yang kami doakan lebih percaya bahwa Tuhan akan menjawab setiap masalah yang menimpa mereka.

Diakonia tidak hanya memberikan materi, tapi lebih daripada itu, Diakonia telah memberikan kasih, seperti Firman-Nya yang telah mengajarkan kami untuk “bertolong-tolongan dalam menanggung beban” hidup. “demikianlah (kami) memenuhi Hukum Kristus”. Saya secara pribadi (pada awalnya) bukanlah orang yang cukup peduli dengan orang lain, tapi tempat ini telah mengajarkan saya untuk lebih peduli. Hati saya yang begitu keras terhadap memberikan bantuan kepada orang  lain mulai terkikis sedikit demi sedikit melalu kegiatan ini. Tanpa saya sadari setelah melewati proses ini saya mulai lebih peduli dengan orang di sekitar saya. Tempat ini mengajarkan kepada saya bahwa mukjizat itu ada, dan setiap orang berhak atas itu.

Tinggalkan komentar

Filed under Bagi Berkat

Semester Dua Tahun Ini

Tidak terasa satu semester sudah berlalu sejak regenerasi Diakonia dilakukan. Saya sangat bersyukur karena Tuhan terus menguatkan tim ini sehingga kami terus setia melayani. Saya dan teman-teman juga sangat berterima kasih atas dukungan dari kakak-kakak alumni yang setia membantu berjalannya program-program kami. Bantuan dana dan semangat dari kakak-kakak adalah sumber sukacita kami. 🙂

Di semester baru ini tim Diakonia berharap semua jemaat PMK ITB yang membutuhkan bantuan biaya hidup dapat dibantu secara keuangan. Kami sangat rindu dapat menjangkau lebih banyak jemaat sehingga beberapa cara publikasi akan kami lakukan. Biarlah Diakonia menjadi salah satu dari sekian banyak cara Tuhan menunjukkan kasih-Nya pada anak-anak-Nya.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Perjalananku Bersama Tuhan

ITB, kampus yang dari dulu terkenal, kampus yang dibanggakan oleh hampir semua pelajar. Waktu dulu belum terpikirkan mau masuk kampus mana, namun ketika kelas 2 SMA mulai ada rasa tertarik masuk kampus rakyat ini. Ketika aku bercerita pada teman-temanku mereka seperti yang tertawa karena aku yang biasa-biasa saja peringkatnya di kelas mau masuk ITB, “Ga mungkin lah masuk ITB, itu kan kampus orang-orang jenius”. Masih ingat temanku berkata seperti itu, namun aku tetap percaya pada Tuhan bahwa setelah lulus aku bisa masuk kampus ini.

Setelah UAN, teman-teman ada yang sudah mendaftar kuliah dan diterima, sedangkan aku masih menunggu hasil SNMPTN yang waktu itu sebulan lebih setelah ujian SNMPTN. Namun dulu aku rasa aku terlalu bertaruh, bertaruh untuk masuk ITB, bagaimana tidak aku yang biasa-biasa saja di sekolah ini tidak pernah les di GO atau SSC seperti teman-temanku yang lain, hanya latihan soal-soal saja itupun soal punya kawanku yang diterima di ITB lewat jalur USM 2. Dulu memang hanya ITB kampus yang aku coba, karena keterbatasan dana aku tidak mau mencoba kampus lain yang biasa masuknya tinggi. Aku berharap bisa masuk ITB dengan BPP Rp 0,00 lewat jalur SNMPTN.

Rasanya masih sangat lama pengumuman SNMPTN, aku mengisi waktu itu dengan bekerja karena aku tau bila aku gagal masuk ITB pun pasti aku harus bekerja dan mencoba lagi tahun depannya, aku bekerja marketing namun ketika bekerja perasaanku selalu gelisah, entahlah sepertinya aku tidak percaya kan janji Tuhan saat itu sampai akhirnya ketika aku komsel di gereja tiap hari selasa pembinaku membawakan tema “Janji Tuhan”. Seperti yang tertulis dalam firman Tuhan “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua akan ditambahkan kepadamu”. Ketika aku sharing mengenai ujian SNMPTN di komsel itu semua teman-teman dan pembinaku di gereja selalu mendoaakanku, dan disana aku mulai introspeksi diri sendiri apakah aku sudah mencari kerajaan Tuhan selama ini. Setelah hari itu aku mulai tidak takut lagi akan masa depanku, karena aku tahu aku sudah mencari Tuhan selama ini, aku terus melakukan perintahNya dan apapun hasil pengungumannya aku percaya itu rancangan yang terbaik dari Tuhan buat masa depanku.

Hari jumat malam sehari sebelum pengunguman SNMPTN aku masih bekerja, aku pikir pengungumannya masih esok hari, namun teman-teman lain saat malam hari mulai bertanya  via sms mengenai hasil SNMPTN, sontak aku terkejut karena ternyata hasilnya sudah keluar dan waktu itu aku belum pulang bekerja. Karena masih ada kerjaan di tempat kerja, aku hanya bisa berdoa biarlah kehendak Tuhan yang jadi, biarlah Tuhan yang tau masa depanku. Ketika aku pulang kerja aku langsung ke warnet dan melihat hasil SNMPTN, awalnya nomor pesertaku error, aku kaget dan sudah berpikiran buruk. Namun aku menunggu hamper sekitar 1 jam di warnet dan begitu bahagianya diriku saat melihat namaku masuk di ITB, sontak aku langsung meneteskan air mata di warnet. Tuhan memang tidak pernah berbohong akan janji-Nya, seperti apa kata firman Tuhan “Ia adalah Allah yang setia dan adil”. Dan aku mau terus percaya bahwa masa depanku sudah Tuhan atur sedemikian rupa.

Sampai sekarang aku terus mempercayai itu dan hanya menyerahkan hidupku ditanganNya. Apapun masalah yang aku hadapi aku mau percaya bahwa Tuhan Yesus amatlah baik dalam kehidupanku, Dia selalu punya jalan untuk kita semua yang percaya kepadanya. Percayalah!

Tinggalkan komentar

Filed under Bagi Berkat

Ia Punya Kendali Penuh Atas Hidupku

Syalom.

Pertama-tama saya mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Karena nafas kehidupan yang masih diberikan-Nya kepada keluarga dan saya ‘lah, hingga saat ini kami masih sehat serta masih bisa memuji dan memuliakan nama-Nya.

Ada banyak tantangan yang saya hadapi selama berada di tanah rantauan ini. Pertama kali saya datang ke tanah rantau yaitu Jakarta, pada 29 Mei 2011, saya datang seorang diri dengan hanya bermodal keberanian. Di kota terpadat Indonesia itu, saya dijemput oleh paman saya yang tinggal di Bekasi. Setelah sehari menginap di rumah beliau, saya diantarkan oleh beliau ke Bandung.

Di Bandung, saya dititipkan kepada mertua bapatua saya. Rumah mertua bapatua saya di daerah Cibaduyut, cukup jauh dari kampus. Di masa-masa awal tahap pendaftaran ITB, saya masih kagok dengan suasana Bandung—termasuk jalanannya yang padat dan membingungkan. Butuh seminggu bagi saya untuk bisa memelajari rute jalan ke kampus, setelah sebelumnya cukup merepotkan anggota keluarga karena membuat mereka harus mengantarkan saya beberapa kali.

Selama semester pertama perkuliahan saya ini, saya terus-menerus berjuang untuk mengatasi kendala keuangan. Seringkali, ketika saya butuh sesuatu, saya sudah tak dapat mencari bantuan biaya untuk menunjang keperluan tersebut. Saya tidak enak untuk minta ke keluarga bapatua, mereka sudah banyak direpotkan dengan kewajiban mengurus saya. Saya tetap tidak menyerah mencari cara supaya saya bisa bertahan hingga lulus.

Puji Tuhan! Di semester ini juga, saya mendapat informasi tentang program beasiswa Diakonia PMK ITB. Saya tidak menyiakan kesempatan tersebut; saya segera mendaftar. Pada akhirnya, saya termasuk orang yang mendapat kesempatan untuk menerima beasiswa ini. Hati saya berlimpah ucapan syukur. Hingga saat ini, saya tidak khawatir untuk pemenuhan kebutuhan saya semasa kuliah ini.

Sejak saya masuk ITB, saya beberapa kali dipukul oleh kejadian yang menyedihkan, salah satunya adalah kepergian seorang anggota keluarga yang sangat dekat dengan saya. Pada awal Desember 2011, adik perempuan bapak saya dipanggil Tuhan. Beliau sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri; saya tinggal bersama dia sejak kecil dan dia juga banyak berperan dalam mengasuh saya. Peristiwa ini memengaruhi batin saya begitu dalam hingga tidak ada seorang pun yang bisa menghibur saya ketika itu.

Akan tetapi, saya yakin, Tuhan punya kendali penuh atas semua hal yang terjadi dalam hidup saya. Semua rencana yang telah diatur Tuhan pasti akan indah pada waktunya. Contoh nyatanya adalah bantuan Diakonia ini. Saya yang awalnya ragu apakah saya bisa kuliah hingga akhir, saat ini bisa fokus belajar serta melayani, tanpa harus khawatir akan hari esok.

Saya sangat berterima kasih kepada kakak alumni, para donatur, dan semua jemaat PMK yang masih mau saling memperhatikan dan membantu kekurangan saya. Saya juga berterima kasih khusus kepada Pemerhati saya yang lucu dan baik; dia sering menguatkan iman saya untuk tetap kuat menjalani hidup dan mengandalkan Tuhan Yesus.

Jika saya harus merinci pemberian Tuhan satu per satu dalam kesaksian ini, ukuran filenya pasti akan jadi bergiga-giga. Jadi, cukup sekian kasih Kristus yang saya bagikan dalam kesaksian saya kali ini.

Terima kasih.

1 Komentar

Filed under Bagi Berkat

Selamat Natal

Kesederhanaan dan pengorbanan, Ia memilih untuk turun ke dunia. Dari palungan hingga salib, bukti nyata kasih-Nya untuk kita.
Selamat Natal, Diakonia. Kiranya damai selalu mengisi hati kita, sejak hari ini hingga Maranatha 🙂

Tinggalkan komentar

Filed under Berita

Walau Ibu Buruh Tani, Anaknya Bisa Jadi Profesor Hayati

Syalom,

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, karena kasih-Nya saya masih diberi kesempatan untuk mengungkapkan kesaksian sekaligus ucapan terima kasih saya. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih banyak kepada Bapak/Ibu/Abang/Kakak dan semua pengurus beasiswa ini yang telah membantu saya untuk mendapatkan beasiswa ini.

Saya anak ke-2 dari lima bersaudara. Saya kuliah di SITH, dan sedang berusaha kuliah di ITB. Selama kuliah di Bandung ini, saya kuliah tanpa dukungan dari siapapun termasuk orang tua saya. Ibu saya adalah seorang single parent dengan pekerjaan sebagai seorang buruh tani. Ibu saya yang sedang membiayai ketiga adik saya. Oleh karena itu orang tua saya tidak bisa membantu saya selama kuliah karena keuangan orang tua yang tidak mencukupi, namun saya sangat ingin melanjutkan pendidikan, karena saya sadar bahwa suatu saat kehidupan keluarga saya akan berubah menjadi lebih baik jika saya melanjutkan pendidikan.

Selama saya kuliah di ITB terus terang sebenarnya bukan hal yang mudah. Saya mengalami sangat banyak kendala maupun kekurangan, baik itu secara finansial maupun kompetensi belajar. Namun demikian, saya masih percaya jika saya berjuang dan bekerja lebih keras lagi saya akan berhasil melewatinya.

Selama kuliah di ITB saya sangat berterimakasih banyak sekali untuk semua perhatian dan kepedulian Bapak/Ibu/Abang/Kakak dan seluruh pengurus maupun penyantun dana beasiswa ini. Lewat beasiswa ini saya sangat terbantu sekali baik secara finansial maupun penguatan rohani (motivasi).

Semoga semua pengurus Beasiswa semakin diberkati lagi oleh Tuhan Yesus Kristus, sehat selalu, umur yang panjang dan sukses selalu, dan semoga visi dan misi beasiswa ini, semakin berkembang lagi agar banyak mahasiswa/i lain yang dapat diberkati dengan adanya beasiswa ini.

Hormat saya,

Reta

Tinggalkan komentar

Filed under Bagi Berkat