Category Archives: Bagi Berkat

Tuhan Mengizinkanku Menjadi Saksi-Nya

       Saat saya akan menulis kesaksian tentang pelayanan Diakonia ini, saya dihadapkan oleh satu perenungan besar,  “Apa yang sudah aku dapatkan dalam pelayanan ini?” Butuh waktu yang cukup lama untuk saya merenung dan mencoba untuk kembali mengingatnya. Sampai di suatu titik, aku pun berpikir, “Jangan-jangan aku tidak melakukan apa-apa” atau “Jangan-jangan aku juga tidak mendapatkan apa-apa.”

        Mungkin banyak dari pembaca yang tidak mengenal saya maka dari itu akan saya ceritakan sedikit mengenai latar belakang saya. Saya adalah seseorang yang lahir dari keluarga Kristen, memiliki kehidupan yang berkecukupan, dan tinggal bersama orang tua. Saya jarang khawatir mengenai kehidupan sehari-hari saya sendiri.

       Ketika saya membutuhkan berbagai macam biaya untuk perkuliahan, orang tua saya selalu menyanggupinya karena orang tua saya berprinsip bahwa pendidikan adalah yang utama. Ketika saya pulang dengan rasa lapar dari perkuliahan, makanan dalam tudung saji selalu tersedia ketika di rumah. Saya tidak tahu arti dari “rindu keluarga” karena hampir setiap hari saya memiliki waktu untuk bercengkrama dengan keluarga. Sungguh suatu kondisi yang cukup ideal. Namun disinilah saya menyadari bahwa sebenarnya saya buta secara rohani. Saya begitu egois dan tidak peduli dengan sesama.

        Melayani dalam Diakonia menyadarkan saya akan satu hal, betapa beruntung dan nikmatnya kehidupan yang saya jalani. Saya tak pernah menyadari betapa kerasnya perjuangan saudara-saudara seiman untuk berkuliah di kampus ini. Mungkin mereka adalah teman-teman terdekat anda, atau mungkin teman-teman yang selalu menyapa anda dengan senyum, atau mungkin juga orang-orang yang tidak anda kenal sama sekali. Tetapi dibalik itu semua mereka khawatir akan kebutuhan mereka sehari-hari disamping dengan kegiatan kuliah masing-masing.

        Banyak dari kita yang mengetahui mengenai kisah Yesus yang mengadakan mujizat dengan memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan. Ketika saya membaca ulang kisah ini dalam Injil Yohanes, hati saya tertegun membaca nats ini :

Ketika Yesus memandang sekelilingNya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepadanya , berkatalah Ia kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6 : 5)

… Seorang dari muridNya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepadaNya, ”Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan…” (Yoh 6 : 8-9).

unduhan

         Ya, Yesus mendapatkan roti dan ikan itu hanya dari seorang anak. Memang tidak diceritakan kenapa dan untuk apa anak itu membawa roti dan ikan, mungkin saja ia membawa itu untuk persediaan makanannya sendiri, tapi secara sadar kita ketahui bahwa anak itu memberikan roti dan ikan kepada Yesus untuk diberkati. Dalam hal ini saya sadar, anak itu sudah melakukan bagian yang terbaik.

        Ia bukanlah orang yang melakukan mukjizat untuk menggandakan makanan tersebut, namun ia memberikan apa yang dimilikinya untuk membantu orang lain. Bukan tugas seorang manusia untuk melakukan apa yang mustahil bagi dirinya, tetapi Tuhanlah yang melakukan segala pekerjaan besar tersebut. Dan inilah yang selalu menjadi doa pribadi saya dalam pelayanan ini, “Tuhan, aku ingin menjadi seperti anak ini.”

       Jujur saya lupa untuk mengingat setiap usaha, pemikiran, dan waktu yang saya habiskan dalam pelayanan Diakonia namun satu yang tak akan saya lupakan dalam pelayanan ini bahwa Tuhan itu baik, sungguh teramat baik.  Saya melihat langsung suatu rancangan Tuhan yang indah dan berkesinambungan antara para donatur, pelayan, dan penerima bantuan.  Ada seorang penerima yang menjadi donatur ketika telah lulus dan mendapat pekerjaaan. Ada juga teman-teman yang turut membantu walaupun tidak terlibat langsung dalam pelayanan ini. Ada juga penerima yang kondisi keuangannya berangsur membaik setelah suatu kejadian yang menyulitkannya.

     Kembali ke pertanyaan awal, “Apa yang sudah aku dapatkan dalam pelayanan ini?” Dengan tak ragu aku menjawab, “Tuhan telah mengizinkanku menjadi saksiNya di kampus ini.” Seperti anak tadi, saya melihat bagaimana ‘mukjizat’ itu terjadi, dan percaya bahwa pemeliharaan Tuhan nyata di kampus ini. Ia memelihara setiap orang dengan cara yang berbeda-beda, Ia mencukupi segala keperluan setiap orang, dan Ia juga telah menghancurkan cara pandangku yang egois dan mengubahnya menjadi penuh kasih.

          Saya sungguh bersyukur dan berterimakasih kalau Tuhan sudah menempatkan saya di pelayanan ini bersama rekan-rekan Tim Diakonia. Saya yakin pekerjaan Tuhan tidak akan pernah berakhir di kampus ini. Oleh karena itu janganlah hendaknya kerajinan kita kendor, biarlah roh itu menyala-nyala dan layanilah Tuhan, sampai ITB penuh dengan kemuliaanNya.

Kiranya Tuhan bersertamu dan sertaku juga 😀

-Kesaksian Pelayan Diakonia-

 

Tinggalkan komentar

Filed under Bagi Berkat

God Provides Me

Sejak kuliah dan tinggal jauh dari keluarga, aku mulai sering mengalami apa yang namanya khawatir tentang kebutuhan hidup. “Besok makan apa, ya? Harus belanja apa saja ya buat minggu ini? Uang segini cukup nggak ya sampai akhir bulan?”

Kekhawatiran itu masih ditambah pula dengan kenyataan bahwa adikku yang akan masuk kuliah membutuhkan biaya yang besar dan bapak telah pensiun dari pekerjaannya. Tahun 2012 adalah tahun aku dipertemukan dengan seorang kakak di PMK ITB untuk sharing kehidupan finansialku. Waktu itu adalah masa di saat aku sedang dalam kondisi kekurangan secara finansial meskipun aku merupakan penerima beasiswa di ITB. Sejak kuliah, aku tidak mendapat uang saku dari orang tua lagi karena telah menerima beasiswa dan dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di Bandung. Namun, saat itu beasiswaku tidak kunjung turun hingga tiga bulan dan finansialku pun sudah sangat kritis.

Ketika TPB saya mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai guru les privat Matematika kelas 4 SD. Bagiku, kerja paruh waktu saat itu sangatlah membantu, karena dapat menutupi kekurangan biaya hidup yang kualami. Dan aku  sangat bersukacita menjalani kerja paruh waktu sebagai guru les privat, karena aku dibentuk dalam berbagai hal dan bisa membagikan apa yang telah kupelajari tentang hidup kepada anak lesku, walaupun dia hanya seorang anak kelas 4. Memasuki tingkat dua, aku tidak bisa melanjutkan kerja paruh waktuku lagi karena tugas dan kegiatan osjur di jurusan yang begitu menghabiskan banyak waktuku saat itu.  Hingga akhirnya aku mengalami krisis finansial karena uang beasiswa yang tidak kunjung turun dan uang yang tersisa di tabunganku sudah menjadi sangat sedikit.

Namun pada saat yang sama, aku mengalami pemeliharaan Tuhan yang luar biasa. Bapa kita yang di sorga senantiasa mencukupkan dan memperhatikan kebutuhan hidupku. Ada kalanya aku gelisah karena uang di rekening sudah terkuras habis sementara kebutuhan sehari-hari masih banyak yang belum terpenuhi, seperti kebutuhan makanku. Tetapi, tidak pernah sekalipun Dia membiarkan aku kekurangan. In every little things! Tak terkecuali dalam hal finansialku ini.

Saat awal tingkat 2, Tuhan memberikan bantuan Diakonia PMK buatku. Bagiku, Diakonia sangatlah membantu, secara khusus dalam hal finansial. Dari beberapa kali bantuan diakonia PMK yang diberikan, aku belajar dalam tentangNya, khususnya tentang kekhawatiran. Seperti dalam Lukas 12:22-34, Tuhan Yesus mengajarkan kita tentang hal kekhawatiran. Aku sungguh bersyukur karena melalui pelayanan Diakonia PMK dari bantuan alumni-alumni yang telah menyisihkan penghasilannya buat kami, selain finansialku tercukupi, aku kembali diingatkan bahwa hidupku, bahkan bukan hanya aku, ada dalam jaminan dan pemeliharaan tangan Sang Pencipta. Tuhan Yesus dalam Nas tersebut secara gamblang mengajarkan kita, supaya tidak khawatir akan hidup kita. Burung-burung gagak diberi makan oleh Allah. Bunga bakung didandani lebih cantik daripada kemegahan Raja Salomo.

Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.

– Lukas 12 : 29-31             

Sering kali sadar atau tidak, kita hidup penuh dengan kekhawatiran, seakan-akan Bapa tidak tahu apa yang kita butuhkan. Tuhan yang aku kenal ialah Tuhan yang tahu betul setiap kesulitan dan kekhawatiran hidup kita, baik itu makanan, pakaian, studi, pekerjaan, pergumulan, dan lain-lain. Dia bahkan sudah siapkan segala hal dengan detilNya untuk memelihara kita. Sehingga kita harus terus belajar bersandar kepada-Nya. Belajar untuk tidak khawatir dan tidak takut. Bukankah mencukupi segala kebutuhan hidup kita adalah perkara kecil bagi-Nya?

Kiranya waktu-waktu kita ke depan, baik hari, minggu, bulan, dan tahun yang telah disediakan oleh Desainer Agung kita, membuat kita senantiasa bersyukur, karena kita tahu bahwa Bapa yang di sorga mengetahui dan memperhatikan apa yang kita butuhkan. Tak perlu khawatir dan takut karena Dia selalu sertaku dan kamu. Tuhan memberkati 🙂

– Kesaksian Penerima Diakonia –

Tinggalkan komentar

Filed under Bagi Berkat

Pengalaman Bersama Diakonia

Pada awalnya saya tidak pernah membayangkan bisa mengambil bagian dalam pelayanan di Diakonia PMK-ITB ini. Sampai pada akhirnya Koordinator Diakonia 2011-2012 mengajak saya untuk berbincang-bincang dan ternyata inti perbincangan tersebut adalah sebuah tawaran untuk masuk ke Diakonia ini. Satu hal yang saya ingat dari perkataannya saat itu ialah dalam pelayanan ini kamu harus mau melayani tanpa dilihat orang. Pada saat itu saya terlalu naif dan berpikir bahwa syarat yang diminta cukup sederhana. Namun, pada kenyataannya hal tersebut sangat sulit dilakukan.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
(Matius 16:24)

Menjaga kemurnian hati dalam pelayanan ini memang sangat sulit, rasa ingin dipuji dan dilihat orang pun selalu terlintas. Namun, dalam pelayanan ini saya terus belajar dan baru mengerti apa yang Tuhan maksud tentang menyangkal diri. Dalam pelayanan ini pun saya merasa semakin dibentuk Tuhan untuk bisa menyangkal diri saya dan merendahkan hati saya. Sampai saat ini saya tetap kagum dengan abang dan kakak, atau saudara-saudara yang pernah terlibat dalam pelayanan ini. Perkara yang ditangani oleh divisi ini bukanlah perkara kecil, bahkan dapat menyangkut keberlangsungan hidup seseorang dalam kampus ITB, tapi tidak ada hadiah nyata yang besar yang diperoleh oleh setiap anggota divisi ini. Meskipun begitu, setiap anggota diakonia selalu bisa menjaga semangat untuk tetap melayani di Diakonia ini.

Meskipun saya berasal dari keluarga yang sederhana, akan tetapi bisa dibilang keluarga saya tidak mampu apabila harus membiayai saya kuliah dengan biaya sendiri. Namun, puji Tuhan atas mukjizat dan kasih karunia Tuhan, saya mendapatkan beasiswa dari Pemprov Jawa Barat untuk bisa berkuliah di kampus ITB. Saya memiliki kerinduan untuk membantu teman-teman atau adik-adik yang mengalami nasib seperti saya. Hal ini merupakan salah satu alasa mengapa saya menerima tawaran untuk mengambil bagian dalam pelayanan ini.

Luar biasanya, ketika saya melayani di Diakonia ini, Tuhan menunjukan kepada saya betapa besar kasih-Nya pada saya yang selama ini saya tidak pernah sadari. Selama dipelayanan ini saya menemukan saudara-saudara saya yang mengalami nasib yang serupa dengan saya dan bahkan lebih parah dari keadaan saya, namun mereka tidak pernah menyerah. Dari saudara-saudara penerima beasiswa Diakonia ini jugalah Tuhan mengajarkan saya untuk belajar bersyukur dan bersukacita dalam keadaan apapun.

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
(Filipi 4:4)

Selain itu selama dalam pelayanan ini, saya juga merasakan semakin dibentuk oleh Tuhan untuk semakin serupa dengan-Nya. Tidak sedikit pergumulan-pergumulan yang dihadapi oleh Diakonia ini membutuhkan hikmat dalam meyelesaikan dan memutuskannya. Sehingga dalam pelayanan ini setiap anggota Diakonia selalu bersandar pada Tuhan untuk berlatih melakukan segala sesuatu dengan hikmat.

Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah……
(Yakobus 1:5)

Saya sangat merasakan dibentuk oleh Tuhan untuk belajar mengasihi sesama dan memberikan hidup kepada orang lain. Hal ini terasa saat menjadi pemerhati bagi penermia beasiswa, saya harus belajar untuk memberikan hidup saya dan memperhatikan hidup penerima beasiswa walaupun penerima beasiswa tersebut bukanlah keluarga saya (bukan keluarga rohani juga). Namun dengan saya belajar untuk mengasihi dan memberikan hidup saya, justru pengenalan saya akan Tuhan semakin dalam karena kasih kepada sesama ini adalah salah satu bentuk nyata kasih kita kepada Tuhan.

Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
(1 Yohanes 4:8)

Saya belajar banyak sekali hal selama saya melayani di divisi Diakonia PMK-ITB ini. Saya berharap divisi ini tetap ada sampai kapanpun dan semakin bisa mambawa mahasiswa Kristen di kampus ITB untuk dekat kepada Tuhan. Tetap semangat dalam pelanyanannya, tim Diakonia PMK-ITB!!! ^^
Percayalah menyenangkan hati Tuhan dengan apa yang kita lakukan dalam dunia ini merupakan hadiah terbesar yang dapat kita rasakan. Soli Deo Gloria….

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
(Amsal 3:5)

Tinggalkan komentar

Filed under Bagi Berkat

Murid Kristus : Mendengar dan Melakukan

Ada hal yang menarik dari seorang murid Kristus dibandingkan dengan seorang murid biasa. Hal yang sering kita tidak tahu karena mungkin selama ini kita hanya fokus pada pemuridan secara umum : apa itu murid Kristus, hal yang kita lakukan untuk menjadi murid Kristus, metode pemuridan, dan sebagainya. Dengan demikian, apa yang menjadi keunikan dari seorang murid Kristus?

Mari kita awali dari Matius 7 : 24 – 27. Di sini Yesus mengisahkan tentang dua jenis orang, yang satu bijaksana dan yang satu lagi bodoh. Orang bijaksana membangun rumahnya di atas batu dan orang bodoh membangun rumahnya di atas pasir. Eitss, hal yang menarik ialah sebelum dinyatakan bahwa orang tersebut bijaksana atau bodoh. Pada ayat 24 dikatakan “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana…” dan di ayat 25 dikatakan “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, …” Ajaran Yesus ini mengisahkan karakter seorang murid, orang yang belajar dari gurunya dengan cara mendengar ajaran sang guru. Namun ajaran Yesus ini sangat memberi perbedaan kepada orang-orang melakukan dan yang tidak melakukan oleh orang yang sama-sama mendengar.

unduhan1
Baiklah, mari kita amati Matius 28 : 19 – 20 yang dikatakan sebagai Amanat Agung Yesus. Pada ayat 20 “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu…” Nah, sangat jelas bukan bahwa Yesus memerintahkan kita menjadikan segala bangsa murid-Nya dan mengajar mereka untuk melakukan perintah-Nya. Apa contoh dari perintahNya? Salah satunya ialah tentang saling mengasihi. Perintah yang dewasa ini hanya seperti menjadi kalimat sakral turun-temurun oleh pengikut Kristus tanpa dilakukan. Wajar seorang Mahatma Gandhi tidak menyukai orang-orang Kristen karena tidak melakukan perintah ini, bahkan mungkin banyak orang lainnya yang tidak menyukai orang Kristen karena dianggap hanya “banyak bicara” namun tingkah lakunya tidak ada kasih. Sekarang dapatlah kita ketahui bahwa perbedaan murid Kristus dengan murid biasa ialah murid Kristus bukan hanya mendengar dan mengetahui ajaran-Nya, namun juga harus melakukannya.

Perbedaan orang-orang yang melakukan dan tidak melakukan pun telah diungkapkan Yesus di Matius 7 : 24 – 27, mari kita kembali ke ajaran Yesus ini. Bagi orang yang melakukan, pada ayat 25 dikatakan bahwa rumah yang didirikannya di atas batu tidak rubuh saat dilanda hujan dan banjir. Sedangkan bagi orang yang tidak melakukan, pada ayat 27 dikatakan rumah yang dibangunnya di atas pasir akan rubuh saat dilanda hujan dan banjir. Dapat dikatakan bahwa orang yang melakukan ajaran-Nya dapat bertahan saat cobaan dan tantangan datang, sebaliknya orang yang tidak melakukan akan ‘tumbang’ saat cobaan dan tantangan datang. Seorang murid Kristus akan teruji saat masalah datang apakah dapat bertahan atau justru tumbang. Jadi jangan menghakimi orang lain atau pun diri sendiri ya dengan mengatakan, “Hah, pengetahuan Alkitbanya sangat minim ternyata…” atau “Wah, dia benar-benar murid Kristus sejati, pengetahuan Firmannya banyak. Sedangkan aku apa lah ya kan…”, karena semua itu teruji ketika ujian datang.

Dapat disimpulkan bahwa murid Kristus itu orang yang belajar dengan mendengar ajaran-Nya dan melakukannya. Seorang murid yang akan bertahan dari setiap masalah yang datang, seorang murid yang teguh dan kokoh. Mari kita menjadi murid-Nya bukan hanya dengan mengetahui banyak hal tentang Firman namun juga melakukannya.

Tinggalkan komentar

Filed under Bagi Berkat

Melayani di Diakonia Mengajar Saya untuk Setia

Awalnya

Terlibat dan membantu melayani dalam kegiatan Diakonia di Persekutuan Mahasiswa Kristen ITB sama sekali tidak pernah terpikirkan sekali pun di dalam rencana kegiatan saya selama di Bandung. Sebagai pribadi yang dibesarkan di lingkungan dengan rasa ego yang cukup tinggi, saya tumbuh menjadi pribadi yang agak cuek dan tidak terlalu peduli dengan kondisi sekitar. Orang lain tidak pernah menjadi bahan pikiran saya. Bagi saya, hidup adalah dari saya, untuk saya, dan oleh saya. Sampai suatu saat Tuhan mulai mengajarkan tentang kehidupan berdampingan, kasih mula-mula, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kasih dan kebenaran-Nya. Tentu saja tidak langsung sempurna, namun bertahap, dan salah satu tahapan itu adalah dengan “harus” terlibat di Diakonia.

Pertemuan dengan teman-teman di Diakonia (paling sering) diadakan di lantai dasar Perpustakaan Pusat, begitu pun ketika pertama kali awal saya ikut bergabung. Di awal pertemuan, saya sudah merasakan kehangatan kasih para pengurus dan anggota Diakonia yang mau memberikan waktunya untuk memikirkan dan mendoakan serta mencari cara agar satu orang anak Tuhan dapat melanjutkan kuliahnya. Masih teringat dalam benak saya, saat itu adalah giliran Bang Patar [MS ’03] untuk menjadi koordinator Diakonia.

Pada saat itu, mereka membahas kebutuhan tiap-tiap orang yang diperhatikan tiap bulan. Sering kali, kebutuhan materi untuk orang yang diperhatikan (para penerima donor) tidak sesuai dengan jumlah orang yang diperhatikan. Kondisi ini sering kali membuat kami berharap lebih kepada Tuhan dan Tuhan selalu menjawabnya dengan cara yang luar biasa. Mujizat selalu datang setiap bulan agar melalui materi yang Tuhan percayakan kami kelola dapat membantu orang-orang yang Tuhan ingin kami perhatikan.

Kondisi Selama Mengurus Diakonia

Diakonia di PMK ITB sedikit tersembunyi pada jaman kami. Tidak banyak orang yang mengetahui para pengurusnya dan gerakannya. Untuk menghubungi Diakonia, sering kali kami hanya mencantumkan nama Koordinator PK sebagai perpanjangan tangan Diakonia dan juga koordinator Diakonia sendiri. Dalam beberapa kesempatan, kami diberi waktu untuk mempresentasikan kinerja Diakonia dan kebutuhan Diakonia di PMK ITB. Pada tahun kedua saya bergabung (2007-2008), yang menjadi koordinator adalah Becka [BI ‘04]. Tidak banyak perubahan yang kami lakukan dalam kepengurusan baru ini. Dalam tim, biasanya terdapat ketua, sekretaris dan bendahara, humas, dan para pemerhati.

Selain mencari sumber donator, kami juga harus mencari anggota Diakonia (pengurus Diakonia) yang semakin bertambah sedikit saat itu. Tidak banyak anak-anak Tuhan yang ingin bergabung dengan bentuk pelayanan ini, di satu sisi karena pelayanan ini tidak terbuka dan rekrutmen lewat teman ke teman; di satu sisi, mungkin karena kegiatan ini kurang begitu populer. Teman-teman dekat kami yang kami rasa memiliki kerinduan yang sama coba kami bagikan tentang kegiatan ini dan beberapa di antaranya setuju untuk bergabung dengan tim Diakonia saat itu.

Para donatur pada umumnya berasal dari alumni kampus yang masih mau memberi bantuan kepada mahasiswa yang aktif di kampus, tetapi tidak mendapatkan materi yang cukup untuk membiayai kebutuhan hidup dan perkuliahannya (kos, makan, dan SPP). Para penerima pada umumnya merupakan kalangan yang kurang mampu dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, yang perlu disokong bantuan berupa material dana untuk keberlangsungan perkuliahannya di kampus.

Pertemuan-pertemuan pada masa itu biasanya diadakan setiap bulan, bersama dengan pembagian materinya. Pertemuan kami juga masih banyak membahas tentang kendala, keluhan, penerima baru, kondisi penerima lama, dan semuanya diusahakan tetap rapi terdokumentasi karena harus dipertanggungjawabkan kepada para pemberi donor.

Banyak hal yang terjadi

Kata yang paling tepat untuk menggambarkan Diakonia adalah “mujizat”. Di tempat ini tidak henti-hentinya Tuhan mengajarkan kami tentang kasih, kesetiaan, dan harapan.  Dia mengajarkan kami untuk memikirkan yang baik, melakukan firman-Nya dan menyebarkan kasih-Nya dari hal yang paling praktis yang bisa kami lakukan. Saya rasa saya sangat beruntung bisa mengambil bagian untuk membantu orang-orang disekitar kami tanpa tahu dia akan menjadi apa nantinya. Seolah-olah Tuhan sedang mengajarkan bahwa kasih itu sangat gampang, tidak perlu perdebatan panjang untuk mendefinisikannya cukup memberi saja dan tak mengharapkan kembali, kasih itu murah hati, dia tidak sombong, ia tidak mencari keuntungannya sendiri dan ia tidak menyimpan kesalahan orang lain. Tidak peduli berapa banyak orang yang telah Tuhan percayakan dan walaupun jumlah donor sering kali tersendat, namun hal paling berharga adalah kasih kepada saudara itu sendiri. Bagaimana kami berusaha menyalurkan sedikit bantuan yang dititipkan oleh alumni-alumni kami kepada para penerima dan bagaimana kami harus mempertanggungjawabkannya kepada para senior setiap bulannya.

Selain masalah donor yang sering tidak tepat jumlahnya, masalah lain adalah seringnya muncul kecurigaan kami kepada para penerima, terutamanya jika mereka mulai membicarakan jumlah materi yang mereka terima. Pada saat bergabung di Diakonia, harapan kami, materi yang diperoleh dari Diakonia merupakan alternatif paling terakhir. Kami berharap, mereka terlebih dahulu mengusahakan ke penyedia-penyedia beasiswa di kampus. Untuk mengatasi masalah itu, seringkali kami harus menyediakan kriteria-kriteria yang cukup ketat dan melakukan wawancara pribadi dan juga kerabat terdekatnya untuk mencari tahu kondisinya yang sebenarnya. Tidak jarang kami kecolongan dalam proses tersebut.

Pentingnya Diakonia

Diakonia sendiri diambil dari bahasa Yunani, yaitu “Diakonein” yang berarti melayani meja, melayani kebutuhan-kebutuhan fisik. Diakonia di PMK ITB tidak jauh berbeda dengan definisi yang cukup luas tersebut. Dari cerita saya di atas, dapat saya simpulkan bahwasanya Diakonia di ITB lebih fokus kepada pemberian bantuan berupa dana kepada para penerima donor. Selain itu, update data dan keluhan serta kebutuhan yang bisa kami bantu dalam doa sering kali kami catat dalam hasil wawancara anatar penerima donor dan pemerhati. Tidak jarang, kami mendapati masalah yang cukup kritis untuk dibantu atau bahkan kami tidak tahu harus membantu dengan apalagi. Kami bisa berdoa kepada Tuhan, dan kami berharap mereka yang kami doakan lebih percaya bahwa Tuhan akan menjawab setiap masalah yang menimpa mereka.

Diakonia tidak hanya memberikan materi, tapi lebih daripada itu, Diakonia telah memberikan kasih, seperti Firman-Nya yang telah mengajarkan kami untuk “bertolong-tolongan dalam menanggung beban” hidup. “demikianlah (kami) memenuhi Hukum Kristus”. Saya secara pribadi (pada awalnya) bukanlah orang yang cukup peduli dengan orang lain, tapi tempat ini telah mengajarkan saya untuk lebih peduli. Hati saya yang begitu keras terhadap memberikan bantuan kepada orang  lain mulai terkikis sedikit demi sedikit melalu kegiatan ini. Tanpa saya sadari setelah melewati proses ini saya mulai lebih peduli dengan orang di sekitar saya. Tempat ini mengajarkan kepada saya bahwa mukjizat itu ada, dan setiap orang berhak atas itu.

Tinggalkan komentar

Filed under Bagi Berkat

Perjalananku Bersama Tuhan

ITB, kampus yang dari dulu terkenal, kampus yang dibanggakan oleh hampir semua pelajar. Waktu dulu belum terpikirkan mau masuk kampus mana, namun ketika kelas 2 SMA mulai ada rasa tertarik masuk kampus rakyat ini. Ketika aku bercerita pada teman-temanku mereka seperti yang tertawa karena aku yang biasa-biasa saja peringkatnya di kelas mau masuk ITB, “Ga mungkin lah masuk ITB, itu kan kampus orang-orang jenius”. Masih ingat temanku berkata seperti itu, namun aku tetap percaya pada Tuhan bahwa setelah lulus aku bisa masuk kampus ini.

Setelah UAN, teman-teman ada yang sudah mendaftar kuliah dan diterima, sedangkan aku masih menunggu hasil SNMPTN yang waktu itu sebulan lebih setelah ujian SNMPTN. Namun dulu aku rasa aku terlalu bertaruh, bertaruh untuk masuk ITB, bagaimana tidak aku yang biasa-biasa saja di sekolah ini tidak pernah les di GO atau SSC seperti teman-temanku yang lain, hanya latihan soal-soal saja itupun soal punya kawanku yang diterima di ITB lewat jalur USM 2. Dulu memang hanya ITB kampus yang aku coba, karena keterbatasan dana aku tidak mau mencoba kampus lain yang biasa masuknya tinggi. Aku berharap bisa masuk ITB dengan BPP Rp 0,00 lewat jalur SNMPTN.

Rasanya masih sangat lama pengumuman SNMPTN, aku mengisi waktu itu dengan bekerja karena aku tau bila aku gagal masuk ITB pun pasti aku harus bekerja dan mencoba lagi tahun depannya, aku bekerja marketing namun ketika bekerja perasaanku selalu gelisah, entahlah sepertinya aku tidak percaya kan janji Tuhan saat itu sampai akhirnya ketika aku komsel di gereja tiap hari selasa pembinaku membawakan tema “Janji Tuhan”. Seperti yang tertulis dalam firman Tuhan “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua akan ditambahkan kepadamu”. Ketika aku sharing mengenai ujian SNMPTN di komsel itu semua teman-teman dan pembinaku di gereja selalu mendoaakanku, dan disana aku mulai introspeksi diri sendiri apakah aku sudah mencari kerajaan Tuhan selama ini. Setelah hari itu aku mulai tidak takut lagi akan masa depanku, karena aku tahu aku sudah mencari Tuhan selama ini, aku terus melakukan perintahNya dan apapun hasil pengungumannya aku percaya itu rancangan yang terbaik dari Tuhan buat masa depanku.

Hari jumat malam sehari sebelum pengunguman SNMPTN aku masih bekerja, aku pikir pengungumannya masih esok hari, namun teman-teman lain saat malam hari mulai bertanya  via sms mengenai hasil SNMPTN, sontak aku terkejut karena ternyata hasilnya sudah keluar dan waktu itu aku belum pulang bekerja. Karena masih ada kerjaan di tempat kerja, aku hanya bisa berdoa biarlah kehendak Tuhan yang jadi, biarlah Tuhan yang tau masa depanku. Ketika aku pulang kerja aku langsung ke warnet dan melihat hasil SNMPTN, awalnya nomor pesertaku error, aku kaget dan sudah berpikiran buruk. Namun aku menunggu hamper sekitar 1 jam di warnet dan begitu bahagianya diriku saat melihat namaku masuk di ITB, sontak aku langsung meneteskan air mata di warnet. Tuhan memang tidak pernah berbohong akan janji-Nya, seperti apa kata firman Tuhan “Ia adalah Allah yang setia dan adil”. Dan aku mau terus percaya bahwa masa depanku sudah Tuhan atur sedemikian rupa.

Sampai sekarang aku terus mempercayai itu dan hanya menyerahkan hidupku ditanganNya. Apapun masalah yang aku hadapi aku mau percaya bahwa Tuhan Yesus amatlah baik dalam kehidupanku, Dia selalu punya jalan untuk kita semua yang percaya kepadanya. Percayalah!

Tinggalkan komentar

Filed under Bagi Berkat

Ia Punya Kendali Penuh Atas Hidupku

Syalom.

Pertama-tama saya mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Karena nafas kehidupan yang masih diberikan-Nya kepada keluarga dan saya ‘lah, hingga saat ini kami masih sehat serta masih bisa memuji dan memuliakan nama-Nya.

Ada banyak tantangan yang saya hadapi selama berada di tanah rantauan ini. Pertama kali saya datang ke tanah rantau yaitu Jakarta, pada 29 Mei 2011, saya datang seorang diri dengan hanya bermodal keberanian. Di kota terpadat Indonesia itu, saya dijemput oleh paman saya yang tinggal di Bekasi. Setelah sehari menginap di rumah beliau, saya diantarkan oleh beliau ke Bandung.

Di Bandung, saya dititipkan kepada mertua bapatua saya. Rumah mertua bapatua saya di daerah Cibaduyut, cukup jauh dari kampus. Di masa-masa awal tahap pendaftaran ITB, saya masih kagok dengan suasana Bandung—termasuk jalanannya yang padat dan membingungkan. Butuh seminggu bagi saya untuk bisa memelajari rute jalan ke kampus, setelah sebelumnya cukup merepotkan anggota keluarga karena membuat mereka harus mengantarkan saya beberapa kali.

Selama semester pertama perkuliahan saya ini, saya terus-menerus berjuang untuk mengatasi kendala keuangan. Seringkali, ketika saya butuh sesuatu, saya sudah tak dapat mencari bantuan biaya untuk menunjang keperluan tersebut. Saya tidak enak untuk minta ke keluarga bapatua, mereka sudah banyak direpotkan dengan kewajiban mengurus saya. Saya tetap tidak menyerah mencari cara supaya saya bisa bertahan hingga lulus.

Puji Tuhan! Di semester ini juga, saya mendapat informasi tentang program beasiswa Diakonia PMK ITB. Saya tidak menyiakan kesempatan tersebut; saya segera mendaftar. Pada akhirnya, saya termasuk orang yang mendapat kesempatan untuk menerima beasiswa ini. Hati saya berlimpah ucapan syukur. Hingga saat ini, saya tidak khawatir untuk pemenuhan kebutuhan saya semasa kuliah ini.

Sejak saya masuk ITB, saya beberapa kali dipukul oleh kejadian yang menyedihkan, salah satunya adalah kepergian seorang anggota keluarga yang sangat dekat dengan saya. Pada awal Desember 2011, adik perempuan bapak saya dipanggil Tuhan. Beliau sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri; saya tinggal bersama dia sejak kecil dan dia juga banyak berperan dalam mengasuh saya. Peristiwa ini memengaruhi batin saya begitu dalam hingga tidak ada seorang pun yang bisa menghibur saya ketika itu.

Akan tetapi, saya yakin, Tuhan punya kendali penuh atas semua hal yang terjadi dalam hidup saya. Semua rencana yang telah diatur Tuhan pasti akan indah pada waktunya. Contoh nyatanya adalah bantuan Diakonia ini. Saya yang awalnya ragu apakah saya bisa kuliah hingga akhir, saat ini bisa fokus belajar serta melayani, tanpa harus khawatir akan hari esok.

Saya sangat berterima kasih kepada kakak alumni, para donatur, dan semua jemaat PMK yang masih mau saling memperhatikan dan membantu kekurangan saya. Saya juga berterima kasih khusus kepada Pemerhati saya yang lucu dan baik; dia sering menguatkan iman saya untuk tetap kuat menjalani hidup dan mengandalkan Tuhan Yesus.

Jika saya harus merinci pemberian Tuhan satu per satu dalam kesaksian ini, ukuran filenya pasti akan jadi bergiga-giga. Jadi, cukup sekian kasih Kristus yang saya bagikan dalam kesaksian saya kali ini.

Terima kasih.

1 Komentar

Filed under Bagi Berkat