Tuhan Mengizinkanku Menjadi Saksi-Nya

       Saat saya akan menulis kesaksian tentang pelayanan Diakonia ini, saya dihadapkan oleh satu perenungan besar,  “Apa yang sudah aku dapatkan dalam pelayanan ini?” Butuh waktu yang cukup lama untuk saya merenung dan mencoba untuk kembali mengingatnya. Sampai di suatu titik, aku pun berpikir, “Jangan-jangan aku tidak melakukan apa-apa” atau “Jangan-jangan aku juga tidak mendapatkan apa-apa.”

        Mungkin banyak dari pembaca yang tidak mengenal saya maka dari itu akan saya ceritakan sedikit mengenai latar belakang saya. Saya adalah seseorang yang lahir dari keluarga Kristen, memiliki kehidupan yang berkecukupan, dan tinggal bersama orang tua. Saya jarang khawatir mengenai kehidupan sehari-hari saya sendiri.

       Ketika saya membutuhkan berbagai macam biaya untuk perkuliahan, orang tua saya selalu menyanggupinya karena orang tua saya berprinsip bahwa pendidikan adalah yang utama. Ketika saya pulang dengan rasa lapar dari perkuliahan, makanan dalam tudung saji selalu tersedia ketika di rumah. Saya tidak tahu arti dari “rindu keluarga” karena hampir setiap hari saya memiliki waktu untuk bercengkrama dengan keluarga. Sungguh suatu kondisi yang cukup ideal. Namun disinilah saya menyadari bahwa sebenarnya saya buta secara rohani. Saya begitu egois dan tidak peduli dengan sesama.

        Melayani dalam Diakonia menyadarkan saya akan satu hal, betapa beruntung dan nikmatnya kehidupan yang saya jalani. Saya tak pernah menyadari betapa kerasnya perjuangan saudara-saudara seiman untuk berkuliah di kampus ini. Mungkin mereka adalah teman-teman terdekat anda, atau mungkin teman-teman yang selalu menyapa anda dengan senyum, atau mungkin juga orang-orang yang tidak anda kenal sama sekali. Tetapi dibalik itu semua mereka khawatir akan kebutuhan mereka sehari-hari disamping dengan kegiatan kuliah masing-masing.

        Banyak dari kita yang mengetahui mengenai kisah Yesus yang mengadakan mujizat dengan memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan. Ketika saya membaca ulang kisah ini dalam Injil Yohanes, hati saya tertegun membaca nats ini :

Ketika Yesus memandang sekelilingNya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepadanya , berkatalah Ia kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6 : 5)

… Seorang dari muridNya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepadaNya, ”Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan…” (Yoh 6 : 8-9).

unduhan

         Ya, Yesus mendapatkan roti dan ikan itu hanya dari seorang anak. Memang tidak diceritakan kenapa dan untuk apa anak itu membawa roti dan ikan, mungkin saja ia membawa itu untuk persediaan makanannya sendiri, tapi secara sadar kita ketahui bahwa anak itu memberikan roti dan ikan kepada Yesus untuk diberkati. Dalam hal ini saya sadar, anak itu sudah melakukan bagian yang terbaik.

        Ia bukanlah orang yang melakukan mukjizat untuk menggandakan makanan tersebut, namun ia memberikan apa yang dimilikinya untuk membantu orang lain. Bukan tugas seorang manusia untuk melakukan apa yang mustahil bagi dirinya, tetapi Tuhanlah yang melakukan segala pekerjaan besar tersebut. Dan inilah yang selalu menjadi doa pribadi saya dalam pelayanan ini, “Tuhan, aku ingin menjadi seperti anak ini.”

       Jujur saya lupa untuk mengingat setiap usaha, pemikiran, dan waktu yang saya habiskan dalam pelayanan Diakonia namun satu yang tak akan saya lupakan dalam pelayanan ini bahwa Tuhan itu baik, sungguh teramat baik.  Saya melihat langsung suatu rancangan Tuhan yang indah dan berkesinambungan antara para donatur, pelayan, dan penerima bantuan.  Ada seorang penerima yang menjadi donatur ketika telah lulus dan mendapat pekerjaaan. Ada juga teman-teman yang turut membantu walaupun tidak terlibat langsung dalam pelayanan ini. Ada juga penerima yang kondisi keuangannya berangsur membaik setelah suatu kejadian yang menyulitkannya.

     Kembali ke pertanyaan awal, “Apa yang sudah aku dapatkan dalam pelayanan ini?” Dengan tak ragu aku menjawab, “Tuhan telah mengizinkanku menjadi saksiNya di kampus ini.” Seperti anak tadi, saya melihat bagaimana ‘mukjizat’ itu terjadi, dan percaya bahwa pemeliharaan Tuhan nyata di kampus ini. Ia memelihara setiap orang dengan cara yang berbeda-beda, Ia mencukupi segala keperluan setiap orang, dan Ia juga telah menghancurkan cara pandangku yang egois dan mengubahnya menjadi penuh kasih.

          Saya sungguh bersyukur dan berterimakasih kalau Tuhan sudah menempatkan saya di pelayanan ini bersama rekan-rekan Tim Diakonia. Saya yakin pekerjaan Tuhan tidak akan pernah berakhir di kampus ini. Oleh karena itu janganlah hendaknya kerajinan kita kendor, biarlah roh itu menyala-nyala dan layanilah Tuhan, sampai ITB penuh dengan kemuliaanNya.

Kiranya Tuhan bersertamu dan sertaku juga 😀

-Kesaksian Pelayan Diakonia-

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Bagi Berkat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s